Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Jangan Menabur Kebencian Di Media Sosial

Sosiolog Musni Umar

Oleh: Musni Umar, Sosiolog, Akademisi, Adjunct Professor Asia E University (AeU) Malaysia

Kita prihatin meningkatnya penggunaan kata-kata kasar dan umpatan di media sosial. Tidak saja dilakukan kaum muda tetapi juga hampir semua kalangan masyarakat.

Ini fenomena sosial yang tidak sehat, karena berkata kasar dan melakukan umpatan dengan menggunakan media sosial, bukan saja menabur kebencian, permusuhan dan perpecahan, tetapi perkataan kasar dan umpatan tidak akan hilang. Setiap saat, orang lain apakah kawan ataupun lawan akan mengungkap kembali sesuatu yang pernah kita ucapkan secara kasar apalagi disertai umpatan. Ini akan menjadi noda dalam hidup setiap orang.

Walaupun ucapan kasar disertai umpatan, biasanya tidak terlepas dari ekspresi kekesalan yang dialami. Bisa karena menganggur dan sudah putus asa tidak kunjung mendapat pekerjaan. Juga bisa disebabkan seorang guru menegur muridnya, sehingga melawan sembari melampiaskan kejengkelan dan kemarahan dengan berkata kasar dan melakukan umpatan. Bisa berbagai sebab yang dialami yang tidak enak, yang dilampiaskan dengan berkata kasar dan umpatan. 

Dalam realitas, bisa juga terjadi sesuatu yang dianggap tabu di masa lalu yang diajarkan orang tua supaya berkata baik, penuh sopan santun, dan ramah, tetapi karena lingkungan pergaulan yang biasa mengungkapkan kata kasar dan umpatan, sehingga terpengaruh dan mencoba berkata kasar dan melakukan umpatan kemudian menjadi kebiasaan.


Berkata baik 

Dalam keadaan apapun, kita harus membiasakan berkata baik dan tidak mengumpat. Dalam Islam, ada ungkapan "berkatalah yang baik atau diam".

Dalam era komunikasi digital, berkata dan menulis dengan kata-kata yang baik, amat diperlukan. Kalau komunikasi tatap muka lalu berkata kasar dan melakukan umpatan, jika tidak direkam dan dipublikasikan, maka yang mendengar terbatas jumlahnya. Kalau berkata kasar dan melakukan umpatan, apakah sungguhan atau sekedar bercanda, jika diberitakan di media sosial, akan terekam dan dibaca oleh banyak orang, apalagi kalau di videokan akan sangat banyak yang mendengar dan mengetahui.

Oleh karena itu, seluruh bangsa Indonesia khususnya kaum muda, harus dibiasakan berkata dan menulis yang baik-baik, tidak mencaci maki dalam kata dan tulisan. orang tua di rumah dan guru di sekolah harus membiasakan anak-anak dilatih, dibiasakan dan dibudayakan berkata dan menulis yang baik-baik. 

Selain itu, orang tua harus memberi contoh teladan dengan berkata yang baik dan jika tidak bisa lebih baik diam. Kalau marah jangan sampai bicara kasar apalagi menggunakan kata-kata kotor, caci maki dan mengumpat.

Kalau kebiasaan tidak baik dibiarkan seperti suka berkata kasar dan melakukan umpatan, maka lama-kelamaan akan diikuti banyak orang terutama anak muda dan kemudian menjadi budaya.

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Jangan Menabur Kebencian Di Media Sosial
  • Jangan Menabur Kebencian Di Media Sosial
  • Jangan Menabur Kebencian Di Media Sosial
  • Jangan Menabur Kebencian Di Media Sosial
  • Jangan Menabur Kebencian Di Media Sosial
  • Jangan Menabur Kebencian Di Media Sosial